26.10.11

..Tapi Sayangnya Tidak

Enam tahun berlalu, dan aku masih saja tak habis pikir akan hujan di Depok. Hujan macam apa, jarang sekali datang tapi sekalinya datang dia tiba-tiba deras. Bukan seperti mandi di bawah shower, hujan di Depok rasanya seperti jongkok tutup mata lalu diguyur air dingin seember besar.

Sama seperti datangnya, hujan di Depok juga tiba-tiba pergi. Ah, ini dia yang paling tidak kumengerti. Bayangkan.. tidak berapa lama setelah hujan berhenti, matahari langsung panas dan jalan-jalan kering lagi. Bagaimana mungkin! Hujannya habis tandas tak berbekas!

Hujan di Depok amat berbeda dengan hujan di Bogor. 

Jelas-jelas dia kota hujan, maka tentu hujan sering datang ke Bogor. Hujan di Bogor datang dengan mengetuk pintu, dia bermula dari rintik. Dia bisa menderas lalu mereda lalu kembali menderas, begitu terus berganti-ganti. Dia bisa juga tahan terus menderas, atau setia menjadi gerimis. 

Apapun bentuknya, biasanya hujan di Bogor tidak buru-buru pergi. Pun setelah dia berhenti, jejaknya masih tersisa sampai lama. Di jalan, di daun-daun, di tepian atap, dan di aroma udara yang kuhirup begitu aku turun dari kereta.

Ah..
Seandainya rasa yang kupunya ini hujan, maka aku mau dia seperti hujan di Depok saja.
Begitu pula seandainya air mata..

2 komentar dari orang baik :):

Anonymous said...

sukaaa!
salam kenal kak, dari salah satu silent readermu (beberapa bulan belakangan ini) :)

Shanti said...

halo halo..
makasih yaa :)

tapi..
apanya yang salam kenal deh kalo lu ga memperkenalkan diri?! hehe ;p

 
Header Image from Bangbouh @ Flickr