31.5.13

Penggusuran Pedagang di Stasiun, Mahasiswa, dan Twitter

Dua hari kemarin gw gelisah.
Pemicunya adalah lintasan baris yang beredar di halaman home Twitter gw.
Rame. Mirip perang terselubung.
Apa isunya? Pastinya penggusuran pedagang di Stasiun UI dong.

Ada yang ngajak ikut hadir di Stasiun UI dan melaporkan kejadian di sana.
Ada yang merutuki harus turun di Pocin dan macetnya kampus gara-gara itu.

Yang bikin gw gelisah dua hari kemarin, jujur aja, bukan nasib para pedagang.
Gw gelisah tentang yang mahasiswa UI lakukan terkait hal ini.

Gw sendiri sempat melempar pertanyaan di Twitter, "apakah mendukung para pedagang untuk bertahan dan menolak digusur adalah hal yang solutif?" dan "ada ga pilihan lain yang bisa dilakukan untuk membantu para pedagang? membantu relokasi mungkin". Gw juga sempat nanya sama Faldo Maldini (Ketua BEM UI 2012), sebenernya apa sih yang diperjuangkan mahasiswa yang mendukung pedagang?

***

Yang gw baca di Twitter (duh maaf banget ga screen capture twitnya jadi ga bisa kasih bukti), ada mahasiswa yang menganggap bodoh mahasiswa lain yang "ngebelain pedagang yang kontraknya emang udah abis" atau "ga sadar pentingnya penataan stasiun biar sesuai standar" atau "mau bantuin sekelompok orang (pedagang) tapi nyusahin sekelompok orang yang lain (orang-orang yang butuh akses Stasiun UI)". Gw ga liat ada penjelasan yang bener-bener jelas tentang apa yang sebenernya diperjuangkan sama mahasiswa yang mendukung pedagang dengan membantunya bertahan di stasiun. Bukan berarti ga ada yang jelasin, mungkin gw ga nemu aja di jaringan Twitter gw.

Karena penasaran (dan ga percaya mahasiswa UI bodoh-bodoh :p), gw nanya ke Faldo dan Mbak Erita (dosen Psikologi yang concern sama isu ini). Ternyata, yang diperjuangkan bukan mentah-mentah agar para pedagang tetap bertahan di situ, tapi agar ada dialog antara PT. KAI dan pihak-pihak terkait mengenai hal ini. Gimana rancangan baru stasiun yang ditawarkan oleh PT. KAI, apakah pedagang bisa balik berdagang di situ setelah direnovasi, apakah ada ganti rugi jika tidak bisa berdagang lagi di situ, dan sebagainya. Mengutip Mbak Erita dalam twitnya,
"Aksi menolak penggusuran ini bukan semata prososial membantu pedagang kecil, melainkan upaya mengingatkan Negara bahwa model pembangunan itu tidak tipikal. Pembangunan tidak harus mengorbankan rakyat kecil. Inovasi dan eksperimentasi dalam pembangunan adalah hal yang keren. Bahwa disain stasiun yang aman, nyaman, tertib, dan sesuai standar tidak selalu berarti sterilisasi stasiun dari pedagang kecil. Cuma butuh kreativitas disain dan pelibatan partisipatif pedagang supaya bisa membangun stasiun yang nyaman dengan tetap menjadi ruang publik yang dipelihara bersama dan menguntungkan semua.
Dalam Perpres yang dijadikan acuan untuk penertiban ini,  dikatakan bahwa upaya penataan harus dikonsultasikan dengan Pemda setempat sblmnya. Tentu aturan ini ditulis karena disadari adanya dampak penataan. Bukan asal tulis agar butiran Perpres jadi banyak dan mengesankan. Jika memang sulit ditanggung sendiri, mari kita berdialog bersama. Pedagang, pendamping, UI, PT KAI, Pemda, lainnya...Berdiskusi. Dan memang diskusi inilah, yang dituntut pedagang dan mahasiswa selama ini dalam segala bentuk perjuangannya. Persis seperti isi Perpres itu".
Yang juga dikhawatirkan adalah, nanti setelah renovasi stasiun akan diisi oleh 'pedagang-pedagang bermerek'. Bukan cuma merugikan para pedagang, ini juga merugikan mahasiswa sebagai konsumen utama dagangan di daerah stasiun. Hayo coba, banyak kan di antara kita yang ngerasa kehilangan tempat makan dan beli buku/alat tulis/payung/earphone/dll murah di daerah stasiun?

Oh iya, selain aksi-aksi yang terlihat sama kita ini, ada juga loh usaha lain misalnya mencari akses ke pihak PT. KAI, mengajukan desain stasiun yang melibatkan pedagang yang ada sekarang ke Dewan Pertimbangan Presiden, dan lain-lain. Usaha ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa tapi juga oleh beberapa dosen. Aksi bertahan di stasiun adalah bentuk simbolik dan usaha terakhir yang dilakukan agar didengar.

***

Di sisi lain, ketika ada mahasiswa yang mengajukan ide untuk melakukan relokasi mandiri atas para pedagang ada pula mahasiswa yang tidak setuju. Ide relokasi mandiri dianggap akan membuat PT. KAI cuci tangan dan lepas tanggung jawab atas nasib para pedagang. Selain itu, menyediakan relokasi juga dianggap bukan tanggung jawab mahasiswa melainkan tanggung jawab pemerintah. Padahal, yang punya ide ini mikirnya ya yang langsung membantu pedagangnya aja deh, kalo udah ga bisa dagang di stasiun kita cariin tempat dagang baru.

***

Gw pikir, kedua jalan tadi ga ada yang salah atau bodoh. Pedagang memang butuh dibantu melanjutkan hidupnya dan pemerintah memang butuh diingatkan. Mengutip jawaban Faldo ke gw, "Ini tentang pilihan cara berjuang". Menurut gw dua jalan tadi bisa beriringan, dan ga perlu ada saling cela antar pendukung dua ide itu.

Buat gw, yang perlu dicela diingatkan adalah mahasiswa-mahasiswa yang males cari informasi dan berpikir kritis. Isu pedagang stasiun ini adalah isu yang abu-abu, gw pikir kita semua perlu usaha lebih untuk menggali informasi dari berbagai sisi dan melihatnya dari berbagai sudut pandang sebelum menentukan sikap. Kalo cuma bisa nerima informasi mentah-mentah dari media massa (yang hampir pasti punya keberpihakan tertentu) apalagi cuma dari lintasan baris di home Twitter masing-masing (yang bisa jadi isinya orang-orang dengan sudut pandang yang sama) mah malu lah ya ngaku mahasiswa :p Malu juga kakak fasilitator OBM LSnya harusnya ehehehehe..

Mengenyam pendidikan tinggi buat gw adalah 'hutang' yang harus dibayar.
Memperoleh kesempatan yang lebih dalam hal pendidikan seharusnya juga membuat kita memberi kemanfaatan yang lebih banyak bagi lingkungan sekitar kita, apapun jalan yang kita pilih.

Selamat terus berusaha berpikir kritis meskipun ga santai dan gampang.
Selamat berjuang di jalan masing-masing :)

29.5.13

Gelisah

*baris-baris dalam tulisan ini bisa jadi tidak berhubungan satu sama lain*

bukti nyata psikodinamika. betapa kita terbentuk dari segala yang pernah kita alami.

gw ga akan ngelakuin hal yang ga gw yakini. gw ga mau nipu orang lain dan -lebih parahnya- nipu diri sendiri.

harus ada yang dilakukan. harus.

tanggung jawab. walk the walk like you talk the talk.

berpikir kritis butuh banyak usaha. baca ini itu. tanya sana sini. ngolah di otak. edan. ga mikir emang enak dan gampang dah, tapi ga pinter dong ya kalo ga mau mikir mah.. ih ogah..

bersikap butuh keberanian. menyatakannya apalagi. menyatakannya di media sosial lebih lebih lagi haha.. gw sih banyak cupunya, masih sering takut dinilai dan dihujat :p

tapi gw bersyukur masih bisa gelisah karena hal semacam ini. semoga terus bisa. *jadi inget tulisan si budi*

ah.

23.5.13

"Libur"

Gw kuliah di bidang yang mengharuskan gw berbahasa dengan baik dan benar, plus gw adalah seorang editor paruh waktu. Dengan kehidupan kayak gitu, harusnya gw tertib berbahasa dong ya, tapi ternyata enggak hahaha.. Gw justru sangat menyadari kalo dalam komunikasi personal gw seringkali berbahasa dengan serampangan *dadah-dadah ke yang sering WhatsApp-an sama gw*. Kalo lagi ngeblog apalagi kalo ngeblognya pake emosi juga seringkali bahasa gw serampangan. Trus pas sadar kan gw analisis tuh ya *iye emang gw anaknya ribet dan kebanyakan mikir, ga usah protes* dan ternyata gw menemukan kalo gw serampangan berbahasa dalam komunikasi personal karena gw pengen "libur" dari semua aturan berbahasa yang harus gw patuhi saat bikin laporan maupun ngedit. Meskipun demikian, soal alur berpikir gw tetep sangat mengusahakan buat teratur. Yaaaah kadang (atau sering?) gw ngelantur dan ngacak juga sih pas ngomong, tapi itu kalo lagi "ga sadar" ngomongnya hehe..

Jadi ya begitulah,
mohon maaf lahir dan batin buat yang jadi "korban" keserampangan gw hehe..

6.5.13

Tentang Pencapaian

Kapan itu saya bertemu seorang teman yang lalu membuat saya tertegun karena dia bercerita bahwa sekarang dia menyetir mobil yang dibelinya dengan uang sendiri. Selain itu, ia sedang dalam proses untuk mengikuti program yang sangat baik untuk karirnya, dan ia sedang mencari gedung untuk pernikahannya tahun ini atau tahun depan. Seketika mendengar cerita itu, saya tertegun. Ah, tapi percakapan seru dengan teman dekat yang sudah lama tidak ditemui tentu tidak memberi ruang untuk lama-lama melamun, kan? Baru setelah turun dari mobilnya dan menyusuri jalan pulang ke kosan, saya sibuk mendengarkan suara-suara di kepala saya.

Dengan usia satu tahun lebih tua darinya, saya belum sama sekali mencapai apa-apa yang dicapainya. Jangankan punya cukup uang untuk beli mobil sendiri atau meniti karir kece di kantor, lulus dan mulai bekerja saja saya belum. Jangankan menentukan tanggal pernikahan, punya calon saja saya belum.
Dan saya santai-santai saja.
Kesadaran bahwa saya santai-santai saja dan tidak jadi merasa insecure akhirnya malah membuat saya gelisah. Apakah saya terlalu santai? Kurang punya ambisi dan target dalam hidup? Apakah dengan begini artinya sekarang saya tidak sukses? Apakah dengan begini saya jadi tidak sukses nantinya?

Hmm tapi kalau diingat-ingat lagi, ya memang bukan karir semacam itu yang ada di bayangan saya setiap kali diminta membayangkan diri saya 5 atau 10 tahun ke depan. Rasanya saya jarang sekali menceritakan isi bayangan saya itu pada orang lain, tapi bayangan itu jelas-jelas konsisten menjadi visi saya. Dan isi bayangan itu memang sama sekali lepas dari atribut karir. Apapun pekerjaan yang saya lakukan, apapun karir yang saya perjuangkan, berapapun uang yang saya punya, bayangan itu ya tetap saja bisa terjadi. Ya ya, saya pikir saya memang tidak pernah membayangkan bahwa pencapaian saya akan diukur melalui kesuksesan karir atau materi.

Lalu soal pasangan. Meskipun "menjadi istri dan ibu yang baik" adalah cita-cita utama saya sejak kecil (dan dengan jujur saya tulis di formulir pendaftaran PPKB sebagai alasan memilih Fakultas Psikologi hahaha), saya juga santai-santai saja kalau ada teman atau adik kelas yang menikah dan/atau punya anak. Ya terserah sih kalau mau dibilang defensif atau menghibur diri, tapi saya benar-benar merasa ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan status belum menikah, termasuk mempersiapkan diri untuk menikah nantinya. Saya sadar betul saya punya beberapa issues yang harus saya selesaikan sebelum menikah agar saya bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan baik. Oh, ini bukan berarti saya ga sering pengen nyambel mulut orang yang recet ya. Kalau cuma bertanya "Kapan menikah?" sih saya masih bisa santai ya, hahahihi dan menjawab "Nanti kalau sudah ada yang melamar" (terbukti, jawaban ini tidak bisa dibantah oleh yang bertanya fufufu). Tapi kalau sudah komentar macam-macam atau menyuruh buru-buru, apalagi kalau pake embel-embel "Kamu perempuan lho" yaaaaa... di dalam kepala sih saya sudah buka sepatu dan menyumpalkan sepatu saya ke mulutnya hehe.. Eh kecuali kalau yang bertanya itu bertanya karena mau membayari resepsi pernikahan saya di Birawa Assembly Hall, Bidakara ya. Kalau ada yang begitu, akan saya simpan baik-baik nomor kontaknya untuk saya hubungi segera setelah ada yang melamar saya :p

Buat saya, "menikah" bukanlah sesuatu yang harus dipertandingkan. Ia juga bukan milestone perkembangan seperti milestone perkembangan anak yang lebih definitif. Bahwa anak berusia 3 tahun yang belum lancar bicara bisa disebut "terlambat bicara", memang ada teorinya. Ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Bahwa orang berusia sekian yang belum menikah bisa disebut "terlambat menikah", bisakah kita tentukan batasan yang disepakati semua orang?

Semoga Saya akan pastikan, kapanpun saya akhirnya menikah, saya tidak melakukannya karena tekanan sosial semata :D Saya ga tau akan sesusah apa mengusahakan itu setelah saya lulus S2 dan bekerja (sehingga komentar "Tunggu apa lagi sih?" akan makin banyak datang *rolleyes*), tapi saya akan pastikan itu dengan keras kepala. Doakan ya :)

***

Minggu lalu saya ditanya apakah bisa hadir ke Malam Apresiasi Mahasiswa Berprestasi di kampus sebagai salah satu bagian dari Madah Bahana UI yang menerima penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi bidang seni. Waktu saya bilang tidak bisa hadir, saya ditanya lagi apakah saya mau mengambil undangannya "Buat difoto terus dijadiin profile picture". Mendengar itu, saya refleks mengerutkan kening. Memotret undangan malam apresiasi mahasiswa berprestasi dan menjadikannya profile picture adalah hal yang tidak pernah terbersit di pikiran saya. Sertifikat bukti kesertaan saya dalam pasukan MBUI yang menjadi Juara 1 GPMB 2010 saja entah di mana.

Ya, kalau diingat-ingat, saya memang semi-tidakpeduli pada berkas-berkas macam itu. Selain karena memang jarang berprestasi dan mendapat sertifikat, yaaa diam-diam saya memang menganggap semua itu kertas-kertas saja. Saya tahu, ada yang perlu disimpan sebagai bukti untuk apalah, tapi ya sudah. Saya tidak menandai pencapaian saya dengan kertas-kertas (atau piala atau plakat atau apalah) semacam itu.

Berbeda dengan kalimat "Ga tau apa jadinya gue dua taun ini kalo ga ada lo" yang dibisikkan ke telinga saya atau cerita anak Psiko 2011 bahwa feedbacker mereka berpesan untuk "Jangan batasi diri" atau melihat perkembangan si ini dan si itu dalam marching and maneuvering. Hal-hal semacam itu yang saya simpan baik-baik sebagai penanda pencapaian saya. Bahkan saat saya menulis ini, saya tersenyum dan hati saya menghangat mengingat itu semua :') Mungkin bukan hal besar, tapi semua itu membuat saya merasa benar-benar sudah melakukan sesuatu yang bermakna.

Oh, ada lagi! Setiap kali melihat deretan tanggal-tanggal ini (yang harusnya berakhir Juli di tulisan itu ternyata baru berakhir di Desember, btw :p dan oh! mulai hari pertama di bulan ini juga saya masuk survival mode lagi) dan mengingat apa yang saya lalui di saat-saat itu, kemudian menyadari bahwa saya masih bertahan dan baik-baik saja sampai sekarang, saya juga merasa sangat sangat sangat berprestasi. Mungkin kesannya standar saya rendah ya, sekadar "bertahan" saja sudah dianggap pencapaian, tapi.. tanpa mengurangi kesyukuran atas hal-hal yang saya capai dalam situasi kondusif, saya pikir apa yang saya lakukan dalam situasi sulitlah yang menunjukkan kualitas saya.

***

Saya melihat banyak orang keren lulusan SMA saya. Yang paling dekat tentu teman-teman seangkatan saya, anak-anak Tahu Logay. Sekarang saya sudah jarang bertemu mereka, tapi setiap kali bertemu --seringnya waktu kondangan hehe-- saya merasa lebih 'hidup'. Kayak baterai HP yang baru di-charge gitu lah. Kenapa? Hmm.. macam-macam alasannya, salah satunya karena kalau bertemu, seringkali kami bicara tentang ide. Dari dulu kami dididik untuk bermimpi, jadi wajar lah ya kalau banyak ide dilempar di setiap pembicaraan kami. Ide-ide yang dilempar itu pastinya direspon sana-sini dan..... karena selain dididik untuk bermimpi kami juga dididik untuk mewujudkannya, seringkali ide-ide itu pun jadi nyata :D

Selain bicara tentang ide, namanya teman lama yang jarang bertemu pasti saling bertukar kabar dong ya.. Nah, mendengar cerita teman-teman saya ini rasanya saya keciiiiiiiiil deh. Belum mencapai apa-apa, belum sampai mana-mana. Saya mencelos sedikit sih, tapi tetap tenang. Kali ini bukan karena saya membayangkan pencapaian-pencapaian yang berbeda dari mereka, tapi karena saat mendengarkan cerita mereka saya jadi merasa 'ada di jalan yang benar'. Dari cerita mereka saya jadi tau, dreams do come true. Pake usaha pastinya :) Dari mereka ini juga saya liat kalau "menjaga idealisme" bukan sekadar kalimat klise dan "mengejar passion" bukan sekadar jargon seksi masa kini. Hal-hal itu benar-benar dilakukan teman-teman saya, dan saya kagum sekali waktu denger cerita mereka. Keren-keren banget lah pokoknya temen-temen saya itu :D Oh! Selain sudah mencapai ini itu yang keren, mereka juga tetap terasa "manusia biasa", masih teman-teman saya yang dulu. Rasanya saya belum pernah bertemu teman lama saya yang tiba-tiba jadi sombong setelah sukses, semoga tidak akan pernah ya :)

***

Jalan hidup saya jelas berbeda dengan orang lain dan mungkin saya punya definisi yang berbeda tentang "pencapaian", tapi saya pikir itu bukan kesalahan. Secara umum saya adalah orang yang sangat tidak kompetitif, tapi kadang-kadang saya juga masih gelisah sendiri kalau "dipaksa kompetitif" hehehe.. Menuliskan ini semua, kegelisahan saya tentang pencapaian memudar. Pun dalam bentuk dan waktu yang berbeda dari kebanyakan orang, kalau saya bisa menjadi versi terbaik dari diri saya, mengapa harus gelisah? :)

1.5.13

TTFN

So I guess it's always a "see ya".
No matter how I insist to change it to a "goodbye".
Even today, somehow we knew it's still a "see ya". It will always be.

But not in the near future.
Hence the title hehe..

Take care :)

PS: Do you still read this blog?

Have Faith

Dear Self,

Do you remember how Little Miss Perfect reacted to what hit her and how you were bewildered when you heard how she questioned her fate? Do you remember how you promised that you won't stoop that low?

Now is the time to fulfill that promise.

Allah never overestimates, you silly.. Haha.. If He gives you this, then it means you're able to get through. You may think you're not all that, but what do you know? Meanwhile... He knows. Now come on! Have more faith in yourself and keep your faith in Allah. Remember that "buat Allah segalanya gampang aja" and "pertolongan Allah selalu dekat".

Still not convinced yet? Aaaigoo, you stubborn you! *toyor*
Let's look back to what you did when you heard those "news" these past few days. 
*rolling clips of scenes from 22 April to 1 May*
Hmm.. See? Nah! See that? And that one.. And another one. Aaaand even this one.
Okay. Now we already saw that in those tight situations you were able to think clearly and did what you had to do. And you do know that past behavior is the best predictor of future behavior, right? So rest assured that you'll be able to do it again. And again. And again. All the way until you finish your thesis and graduate. 

Feel better already? Good! :D

Have faith and keep fight.
Fight more, fear less, stay focused.
Keep fight and you'll win.
And remember.. you're not alone :)

All the best for us!
-Ne

PS: Recite "Allahumma yassir wa laa tu'assir" and "Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal ajzi wal kasal" more often ya :)
 
Header Image from Bangbouh @ Flickr