6.5.13

Tentang Pencapaian

Kapan itu saya bertemu seorang teman yang lalu membuat saya tertegun karena dia bercerita bahwa sekarang dia menyetir mobil yang dibelinya dengan uang sendiri. Selain itu, ia sedang dalam proses untuk mengikuti program yang sangat baik untuk karirnya, dan ia sedang mencari gedung untuk pernikahannya tahun ini atau tahun depan. Seketika mendengar cerita itu, saya tertegun. Ah, tapi percakapan seru dengan teman dekat yang sudah lama tidak ditemui tentu tidak memberi ruang untuk lama-lama melamun, kan? Baru setelah turun dari mobilnya dan menyusuri jalan pulang ke kosan, saya sibuk mendengarkan suara-suara di kepala saya.

Dengan usia satu tahun lebih tua darinya, saya belum sama sekali mencapai apa-apa yang dicapainya. Jangankan punya cukup uang untuk beli mobil sendiri atau meniti karir kece di kantor, lulus dan mulai bekerja saja saya belum. Jangankan menentukan tanggal pernikahan, punya calon saja saya belum.
Dan saya santai-santai saja.
Kesadaran bahwa saya santai-santai saja dan tidak jadi merasa insecure akhirnya malah membuat saya gelisah. Apakah saya terlalu santai? Kurang punya ambisi dan target dalam hidup? Apakah dengan begini artinya sekarang saya tidak sukses? Apakah dengan begini saya jadi tidak sukses nantinya?

Hmm tapi kalau diingat-ingat lagi, ya memang bukan karir semacam itu yang ada di bayangan saya setiap kali diminta membayangkan diri saya 5 atau 10 tahun ke depan. Rasanya saya jarang sekali menceritakan isi bayangan saya itu pada orang lain, tapi bayangan itu jelas-jelas konsisten menjadi visi saya. Dan isi bayangan itu memang sama sekali lepas dari atribut karir. Apapun pekerjaan yang saya lakukan, apapun karir yang saya perjuangkan, berapapun uang yang saya punya, bayangan itu ya tetap saja bisa terjadi. Ya ya, saya pikir saya memang tidak pernah membayangkan bahwa pencapaian saya akan diukur melalui kesuksesan karir atau materi.

Lalu soal pasangan. Meskipun "menjadi istri dan ibu yang baik" adalah cita-cita utama saya sejak kecil (dan dengan jujur saya tulis di formulir pendaftaran PPKB sebagai alasan memilih Fakultas Psikologi hahaha), saya juga santai-santai saja kalau ada teman atau adik kelas yang menikah dan/atau punya anak. Ya terserah sih kalau mau dibilang defensif atau menghibur diri, tapi saya benar-benar merasa ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan status belum menikah, termasuk mempersiapkan diri untuk menikah nantinya. Saya sadar betul saya punya beberapa issues yang harus saya selesaikan sebelum menikah agar saya bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan baik. Oh, ini bukan berarti saya ga sering pengen nyambel mulut orang yang recet ya. Kalau cuma bertanya "Kapan menikah?" sih saya masih bisa santai ya, hahahihi dan menjawab "Nanti kalau sudah ada yang melamar" (terbukti, jawaban ini tidak bisa dibantah oleh yang bertanya fufufu). Tapi kalau sudah komentar macam-macam atau menyuruh buru-buru, apalagi kalau pake embel-embel "Kamu perempuan lho" yaaaaa... di dalam kepala sih saya sudah buka sepatu dan menyumpalkan sepatu saya ke mulutnya hehe.. Eh kecuali kalau yang bertanya itu bertanya karena mau membayari resepsi pernikahan saya di Birawa Assembly Hall, Bidakara ya. Kalau ada yang begitu, akan saya simpan baik-baik nomor kontaknya untuk saya hubungi segera setelah ada yang melamar saya :p

Buat saya, "menikah" bukanlah sesuatu yang harus dipertandingkan. Ia juga bukan milestone perkembangan seperti milestone perkembangan anak yang lebih definitif. Bahwa anak berusia 3 tahun yang belum lancar bicara bisa disebut "terlambat bicara", memang ada teorinya. Ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Bahwa orang berusia sekian yang belum menikah bisa disebut "terlambat menikah", bisakah kita tentukan batasan yang disepakati semua orang?

Semoga Saya akan pastikan, kapanpun saya akhirnya menikah, saya tidak melakukannya karena tekanan sosial semata :D Saya ga tau akan sesusah apa mengusahakan itu setelah saya lulus S2 dan bekerja (sehingga komentar "Tunggu apa lagi sih?" akan makin banyak datang *rolleyes*), tapi saya akan pastikan itu dengan keras kepala. Doakan ya :)

***

Minggu lalu saya ditanya apakah bisa hadir ke Malam Apresiasi Mahasiswa Berprestasi di kampus sebagai salah satu bagian dari Madah Bahana UI yang menerima penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi bidang seni. Waktu saya bilang tidak bisa hadir, saya ditanya lagi apakah saya mau mengambil undangannya "Buat difoto terus dijadiin profile picture". Mendengar itu, saya refleks mengerutkan kening. Memotret undangan malam apresiasi mahasiswa berprestasi dan menjadikannya profile picture adalah hal yang tidak pernah terbersit di pikiran saya. Sertifikat bukti kesertaan saya dalam pasukan MBUI yang menjadi Juara 1 GPMB 2010 saja entah di mana.

Ya, kalau diingat-ingat, saya memang semi-tidakpeduli pada berkas-berkas macam itu. Selain karena memang jarang berprestasi dan mendapat sertifikat, yaaa diam-diam saya memang menganggap semua itu kertas-kertas saja. Saya tahu, ada yang perlu disimpan sebagai bukti untuk apalah, tapi ya sudah. Saya tidak menandai pencapaian saya dengan kertas-kertas (atau piala atau plakat atau apalah) semacam itu.

Berbeda dengan kalimat "Ga tau apa jadinya gue dua taun ini kalo ga ada lo" yang dibisikkan ke telinga saya atau cerita anak Psiko 2011 bahwa feedbacker mereka berpesan untuk "Jangan batasi diri" atau melihat perkembangan si ini dan si itu dalam marching and maneuvering. Hal-hal semacam itu yang saya simpan baik-baik sebagai penanda pencapaian saya. Bahkan saat saya menulis ini, saya tersenyum dan hati saya menghangat mengingat itu semua :') Mungkin bukan hal besar, tapi semua itu membuat saya merasa benar-benar sudah melakukan sesuatu yang bermakna.

Oh, ada lagi! Setiap kali melihat deretan tanggal-tanggal ini (yang harusnya berakhir Juli di tulisan itu ternyata baru berakhir di Desember, btw :p dan oh! mulai hari pertama di bulan ini juga saya masuk survival mode lagi) dan mengingat apa yang saya lalui di saat-saat itu, kemudian menyadari bahwa saya masih bertahan dan baik-baik saja sampai sekarang, saya juga merasa sangat sangat sangat berprestasi. Mungkin kesannya standar saya rendah ya, sekadar "bertahan" saja sudah dianggap pencapaian, tapi.. tanpa mengurangi kesyukuran atas hal-hal yang saya capai dalam situasi kondusif, saya pikir apa yang saya lakukan dalam situasi sulitlah yang menunjukkan kualitas saya.

***

Saya melihat banyak orang keren lulusan SMA saya. Yang paling dekat tentu teman-teman seangkatan saya, anak-anak Tahu Logay. Sekarang saya sudah jarang bertemu mereka, tapi setiap kali bertemu --seringnya waktu kondangan hehe-- saya merasa lebih 'hidup'. Kayak baterai HP yang baru di-charge gitu lah. Kenapa? Hmm.. macam-macam alasannya, salah satunya karena kalau bertemu, seringkali kami bicara tentang ide. Dari dulu kami dididik untuk bermimpi, jadi wajar lah ya kalau banyak ide dilempar di setiap pembicaraan kami. Ide-ide yang dilempar itu pastinya direspon sana-sini dan..... karena selain dididik untuk bermimpi kami juga dididik untuk mewujudkannya, seringkali ide-ide itu pun jadi nyata :D

Selain bicara tentang ide, namanya teman lama yang jarang bertemu pasti saling bertukar kabar dong ya.. Nah, mendengar cerita teman-teman saya ini rasanya saya keciiiiiiiiil deh. Belum mencapai apa-apa, belum sampai mana-mana. Saya mencelos sedikit sih, tapi tetap tenang. Kali ini bukan karena saya membayangkan pencapaian-pencapaian yang berbeda dari mereka, tapi karena saat mendengarkan cerita mereka saya jadi merasa 'ada di jalan yang benar'. Dari cerita mereka saya jadi tau, dreams do come true. Pake usaha pastinya :) Dari mereka ini juga saya liat kalau "menjaga idealisme" bukan sekadar kalimat klise dan "mengejar passion" bukan sekadar jargon seksi masa kini. Hal-hal itu benar-benar dilakukan teman-teman saya, dan saya kagum sekali waktu denger cerita mereka. Keren-keren banget lah pokoknya temen-temen saya itu :D Oh! Selain sudah mencapai ini itu yang keren, mereka juga tetap terasa "manusia biasa", masih teman-teman saya yang dulu. Rasanya saya belum pernah bertemu teman lama saya yang tiba-tiba jadi sombong setelah sukses, semoga tidak akan pernah ya :)

***

Jalan hidup saya jelas berbeda dengan orang lain dan mungkin saya punya definisi yang berbeda tentang "pencapaian", tapi saya pikir itu bukan kesalahan. Secara umum saya adalah orang yang sangat tidak kompetitif, tapi kadang-kadang saya juga masih gelisah sendiri kalau "dipaksa kompetitif" hehehe.. Menuliskan ini semua, kegelisahan saya tentang pencapaian memudar. Pun dalam bentuk dan waktu yang berbeda dari kebanyakan orang, kalau saya bisa menjadi versi terbaik dari diri saya, mengapa harus gelisah? :)

6 komentar dari orang baik :):

fidella anandhita savitri said...

Ah ne...

Baca ini bikin lega karna tau ternyata gw ngga 'deviant' sendirian. Ternyata punya pencapaian yang 'intangible' itu bukan sesuatu yang 'salah'. Ternyata...

"What is essential is invisible to the eye" - Little Prince

Somehow i have to thank you for this 'curhat pasif' posting :)

Shanti said...

:)

besinikel said...

*gatel komen* :))

apalagi bagian
.."menjadi istri dan ibu yang baik" adalah cita-cita utama..

itu jawaban aku loh Mbak, pas ditanya Bu Nana pada saat pelajaran Bahasa Indonesia :))))

Shanti said...

hihihi skrg udah lebih deket ya mbak ke pencapaian cita2nya.. aku belooom :))

besinikel said...

hmmm, kalo "menjadi istri dan ibu"-nya sih udah..
ternyata yang susah 2 kata terkahirnya :
"yang baik" hahahahahahaha

Anonymous said...

cuneee.. gw sering ngebanding2in sama orang lain terus jadi minder. berkali2. tapi sekarang, rasanya gw udah mendefinisikan sukses gw apa dan apa yg mau gw kejar. jadi bahagia2 aja ah haha

 
Header Image from Bangbouh @ Flickr