25.8.12

#fatwakhyar - 5


  1. Hidup sederhana baik, berpikir sederhana tidak. Sekian & terimakasih.
  2. Jangan jadikan “lagi pula menurut agama” sebagai pamungkas argumen. Sekian & terimakasih.
  3. NU dan Muhammadiyah malam ganjilnya memang berbeda, bukan berarti Lailatul Qadr hanya untuk satu ormas. Sekian & terimakasih.
  4. Merasa tahu tentang agama dengan modal pengalaman beragama sejak kecil adalah kesombongan yang nyata. Sekian & terimakasih.
  5. Hati-hati, jangan-jangan selama ini kita beragama berdasarkan “sepertinya begitu” alih-alih dengan ilmu. Sekian & terimakasih.
  6. Yang perlu taat kepada keputusan syura adalah yang terikat pada syura itu, yang lain tak perlu. Sekian & terimakasih.
  7. Orang yang berkata bahwa ia mendapat lailatul qadr seperti orang yang berkata ke orang lain, ia ikhlas. Sekian & terimakasih.
  8. Jika kita bisa tepat waktu dalam berbuka, tentu saja kita harusnya bisa tepat waktu dalam perkara lain. Sekian & terimakasih.
  9. Keinginan kita Ramadan di Mekkah harusnya sama besar dengan keinginan agar tiada lagi kemiskinan di sini. Sekian & terimakasih.
  10. Sehebat-hebatnya ekstase yang kita temukan ketika shalat, pada akhirnya kita harus salam ke kanan & kiri. Sekian & terimakasih.
  11. Tentu kita ingin berjodoh dengan orang seperti Ramadan, bikin rajin beribadah, namun peluang bertemu 1:11. Sekian & terimakasih.
  12. Yang tahu kita berpuasa adalah diri sendiri & Tuhan, semoga setelah ini kita lebih baik menjaga rasa riya. Sekian & terimakasih.
  13. Hari hari Ramadan bukanlah persiapan diri untuk lebaran, tetapi untuk menggapai takwa. Sekian & terimakasih.
  14. Hari raya bukanlah imbalan terhadap amalan Ramadan kita, ia adalah hadiah dari Tuhan, agar kita bergembira. Sekian & terimakasih.
  15. Pada akhirnya Ramadan seperti cinta, tak bisa dipaksakan bertahan jika ia mau pergi, tetapi boleh dirindukan untuk bertemu lagi.

Sekian dan terimakasih telah mengikuti serial #fatwakhyar yang hanya tersedia di bulan Ramadan. Semoga bermanfaat. Mohon maaf jika ada yang terganggu. 
Pada akhirnya, kita hanya berharap semoga segala amalan kita di bulan ini diterima oleh Allah dan mengantarkan kita ke pintu takwa.
Tentu saja kita tidak bisa berbangga berlebih-lebihan dengan apa yang telah kita lakukan, rasanya masih banyak kekurangan di sana-sini terkait amalan kita di bulan ini. Satu hal, kita tentu akan begitu merindukannya, menangisi kepergiannya, menyesal tak memaksimalkannya.
Dan, satu ciri perindu, selalu berharap untuk bertemu, selalu berperilaku tertentu agar merasa dekat dengan yang dirindu selalu. Apa itu? 
Berpuasalah 6 hari di bulan Syawal, teruskan amal baik di bulan ini di bulan lain.

Ah, panjang saya berkata-kata seolah-olah sudah paling benar, sudah paling tahu semua.
Saatnya kita bergembira, karena hari raya telah di depan mata.
Mohon maaf jika ada kata keliru
Jangan disimpan agar tidak mengganggu

Kini salam penutup saya seru
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Taqqaballahu minna wa minkum. :)
Salam untuk keluarga, di kampung, di kota, di Nusantara.


- @muhammadakhyar
Penutup ditulis Akhyar di sini

0 komentar dari orang baik :):

 
Header Image from Bangbouh @ Flickr