2.9.12

Something Sweet For Sweet Person

Re berdiri berkacak pinggang di depan meja dapurnya. “4 telor, 210 gram  terigu, 400 gram gula pasir, 60 gram bubuk coklat, 225 mililiter minyak, 85 gram chocolate chips, 120 gram kenari, trus garem setengah sendok sama vanili sesendok,“ diabsennya satu per satu isi mangkuk yang ada di depannya, “Udah semua.. Loyang juga udah dilapis kertas trus dimentegain. Owkay..”. Re menyalakan pemutar musik di ponsel lalu meletakkan ponselnya di pojok meja dapur, bersandar di dinding. Ia tersenyum.
Malam itu Re berjalan-jalan di dunia maya seperti biasa. Klak klik sana sini, akhirnya ia sampai ke situs yang menjual berbagai kue kering. Re suka sekali lagu yang jadi musik latar situs itu. Dibukanya soundcloud pemilik lagu itu, tapi sayang sekali ia tidak menemukan tautan untuk mengunduhnya. Malam itu Re tidur dengan membiarkan situs kue kering tadi tetap terbuka.    
Re menyalakan oven, 180 derajat celcius. Matanya memejam sejenak, “Bismillah..”. Re membuka mata dan menggosok-gosok kedua telapak tangannya bersemangat. Ia lalu mengambil mangkuk kaca besar. Dituangkannya tepung terigu, bubuk coklat, dan vanili ke dalam mangkuk itu lalu diaduknya. Re menuangkan gula ke mangkuk berisi telur lalu mengambil mixer. Zrrrrrr.. Mixer menggerung lembut.
Re suka sekali lagu itu. Dibaginya lagu itu di laman tumblrnya, ditambah sebaris “Sayang sekali ga bisa diunduh” dan titik dua kurung tutup.
Campuran telur dan gula sudah mengembang, gulanya pun sudah halus. Re memasukkan garam lalu mengocoknya lagi sampai rata. Re mematikan mixer lalu mengambil ayakan. Diayakkannya campuran tepung ke dalam adonan telur. Serbuk coklat turun menghujani adonan putih dalam mangkuk.
Layar ponsel Re berkedip. Ada yang mengirimkan audio file lewat WhatsApp. “Apaan ni?” tanya Re. “Download aja dulu sih” balas si pengirim.  Re membalas lagi, “Lagi susah sinyal, nanti ya” lalu berdecak ketika membaca “Hehe yaudah terserah.. Oiya, jangan kaget kalo udah dengerin ya ntar #bikinpenasaran haha” di layar ponselnya. “Nyebelin sejuta. Hih,” Re kembali memasukkan ponsel ke saku celananya.
Re mengaduk adonan dengan sendok kayu. Makin lama makin berat. Tiap kali sendok berputar Re berdoa, “Semoga makanan ini bikin yang makan senang”. Tepung dan telur sudah bercampur rata, Re menuangkan minyak lalu mengaduk lagi. Sambil memperhatikan minyak berpusar menyatu dengan adonan, Re berdoa lagi untuk hal yang sama. Re mengadukkan kenari dan chocolate chips lalu menuangkan adonan ke loyang dan memasukkannya ke oven.
Penanda sinyal di kanan atas layar HPnya menyala hijau-oranye. Re segera mengunduh file tadi. 100%. Re menekan “play” lalu memekik girang saat mengenali lagu yang didengarnya.
Sudah 35 menit. Re membuka pintu oven, menarik rak, lalu menusukkan tusuk gigi ke brownies yang aromanya memenuhi seisi dapur. Serpih-serpih berwarna coklat yang melekat di tusuk gigi sudah tidak basah. Re mematikan oven lalu mengeluarkan loyang.
Re melirik jam tangannya, setengah delapan malam. Lagi-lagi ia harus mengerjakan tugas sampai malam di kampus. Re mematikan laptop. Orang yang duduk di sebelahnya menoleh, “Pulang?” tanyanya. Re mengangguk. “Eh Ar, gue udah download tuh” kata Re sambil membereskan barang-barangnya. Ar tertawa, “Terus? Udah tau itu apaan?” tanyanya tanpa mengalihkan pandang dari laptop-nya. Re ikut tertawa, “Yaaaah meskipun nyebelin sejuta, lo baiknya dua juta, jadi gapapa deh”. Ar menoleh dan mencebik. Re tertawa lagi, “Emang canggih lo ya.. Kok sama lo bisa di-download sih itu lagunya?”. Ar memasang tampang jumawa. “Makanya gue bilang juga lo install ini deh..” kata Ar sambil menunjukkan suatu program di laptop-nya.    
Re memotong brownies yang sudah dingin lalu memasukkannya ke kotak bekal. Re tersenyum sendiri membaca tulisan di post-it yang menempel di tutup kotak bekal.
I hope this bring smile to your face the way you bring smile to mine :)”


Resep: Pennylane Brownies by Riana Ambarsari

0 komentar dari orang baik :):

 
Header Image from Bangbouh @ Flickr